Entah mengapa aku kembali merasakan getar-getar itu ketika aku membuka satu persatu e-mail dari Jonru Ginting. Aku merasa bahwa aku adalah salah satu bagian dari orang-orang seperti itu? (Cieee kayalan tingkat tingginya keluar tuh!) Tapi beneran kok. Aku merasa menjadi bagian dari komunitas yang dibangun olehnya, walaupun sebagai penikmat pasif, tapi boleh juga kan dari pada ndak? Bukan apa-apa sih, tapi dengan jujur aku katakan kalau aku benar-benar ingin memperoleh ilmu yang lebih dan lebih lagi dari beliau, dan juga dari para senior-senior lainnya.
Kenapa? Yaaa karena! Kalo ada kenapa ya ada karena, ya to?
Eh becanda mulu! Gini lho, pada dasarnya aku ini kan suka pada tulis-menulis sejak saat aku SMP. Perkenalan dimulai saat ada lomba class metting yang diadakan di SMP 1 Susukan. Saat itu aku ditunjuk sebagai wakil kelasku untuk mengikuti lomba baca puisi. Jadi mau gak mau aku harus belajar baca puisi. Saat itu aku maju dengan penuh “Resah dan gelisah, menunggu di sini, disudut sekolah …”(da yang ingat “kisah kasih di sekolah”nya Obie Mesakh gak?) ups! Kok malah nyanyi seeh?
Yang jelas saat itu aku maju dan jreng jeng…! Aku dapet juara dua lho (Alhamdulillah!!!). Dari situ aku mulai deh cinta dengan yang namanya tulis menulis(Tapi nggak pacaran lho. Kata nenek itu berbahaya…(ini mah lagunya Titiek Puspa). Awalnya sih puisi, lalu malah alih kemudi ke jurusan cerpen, habis aku gak terlalu suka yang njelimet-njelimet harus mikir kata yang biasa jadi tidak biasa. Susaaaaah!!!
Tapi temen-temen, sayangnya itu semua cuma buat konsumsi sendiri. Tidak ada orang lain yang ikut merasakannya (ieh, pelit ya! Padahal belum tentu makanannya enak). Ya iya lah, masa diary mau diserahin orang lain bisa kebongkar kan rahasia kita?! Yah, begitulah selama bertahun-tahun tulisan tulisan itu cuma menjadi barang antik di antara berpuluh buku cetak yang ada di lemariku.
Perkenalan kedua dengan dunia ini aku alami saat aku ada di Ponpes Raudlotut Tolabah, Gebangsari, Kuwarasan, Kebumen. Adanya mading santri yang ada di Ponpes Raudlotut Tolabah ini mengitik-itik hatiku untuk ikut mengisi di sana.
Alhamdulillah setelah itu ada sedikit keberanian untuk mengirim coretan-coretanku ke majalah. Legaaa banget setelah aku kirimkan coretan-coretan itu. Sebulan, dua bulan, tiga bulan kutunggu kabar. Yah sekedar kabar tentang coretanku yang ku kirimkan entah itu diterima atau ditolak, tapi tak ada sadikitpun kabar yang datang.
Semangatku kembali down lantaran hal itu. Bahkan sampai saat aku keluar dari ponpes (Jangan ditiru ya! Aku keluar itu DeO lo.... ‘Huss! Jangan diceritain ngapa? Malu-maluin aja!’ Sorry, bro! Kelepasan!) aku masih down sehingga dunia ini terasa asing bagiku.
Beruntung aku mempunyai teman yang juga suka akan dunia tulis menulis. Kami sering sharing tentang mushola dan madrasah di desa kami (Kami sama-sama satu desa, mushola dan satu madrasah diniyyah). Sebuah ide yang tercetus dalam menyambut ramadhan kembali membangkitkan gairahku. “MADING GAUL RAMADHAN“ begitu kami memberi judul untuk kegiatan yang satu ini. tempat dimana anak-anak IRBATS (Ikatan Remaja Baitussalam) menampilkan kreasi masing-masing melalui tulisan.
Kami memajang tulisan-tulisan itu di Serambi Mushola Baitussalam. Teman-teman amat antusias dalam berpartisipasi di dalamnya, bahkan kami sempat juga saling sindir di dalam tulisan-tulisan itu. Madingpun menjadi hidup.
Sayang, dalam perjalanannya madding tersebut lebih menjadi ajang untuk saling menyindir dan mengejek antar anak-anak IRBATS sehingga kami putuskan untuk menyetop mading tersebut. Madingpun mati pada umur satu bulan (yee.. emang ramadhannya cuma 30 hari kali? Tapi beneran kok cerita yang tadi! Gak ada niat bo’ong! Suerr!)
Pengalaman membuat mading di mushola membuatku semakin bersemangat dalam menekuni dunia tulis menulis. Tapi ketika aku mencoba kembali untuk menulis cerpen ataupun puisi, aku selalu mentok. Kadang aku kekurangan ide untuk melanjutkan cerita atau puisi itu, tapi kadang justru ide-ide yang berseliweran di kepalaku menyeretku jauh dari ide awal yang seharusnya aku ceritakan, bahkan aku tak bisa mengembalikannya ke jalurnya yang semula.
Oleh temanku aku ditawari untuk ikut menjadi anggota FLP Purwokerto yang baru dibentuk. Akupun dengan semangat mengiyakan saja untuk menambah pengetahuan dan kualitas dalam menulis.
Dua minggu kemudian kami diberi tugas untuk mengumpulkan cerpen ataupun puisi karya kami sendiri. Dengan semangat empat lima aku menyerahkan coretan-coretan tanganku. Hasilnya….
Inalillahi wa inna ilaihi rojiun…..
Telah meninggal dunia
Semangat saya dalam dunia tulis menulis
Mari kita bersama-sama mendoakan agar arwahnya diterima disisi-Nya Al fatihah!
(Eeh lagi-lagi ngelantur. Maaf, punten, sorry banget ya, jadi ngelantur). Maksudnya karena bedah naskah yang diadakan aku saat itu justru down sedown-downnya (istilah apaan tuh?!). Aku saat itu minder, merasa karya sendiri paling jelek dan belum layak untuk dikonsumsi oleh otak-otak yang lapar akan bacaan. Kalau Harry Potter adalah buku yang Selezat Pizza (meminjam istilah Hernowo) maka coretan yang aku buat ibarat sayur bening yang sudah basi. (Menunggu saat untuk dibuang aja deh. Hiks… hiks … hiks…).
Kedatangan ramadhan tahun 2008/1429 H kembali memberikan setitik semangat untuk kembali menghidupkan mading yang telah fakum selama bertahun-tahun. Kuputuskan untuk menghidupkan kembali kegiatan mading di dua tempat sekaligus, yaitu di Masjid Al Ikhlas dan Madrasah Diniyyah Darussalam. Aku berharap agar madding yang dirilis kali ini bukan bertahan hanya satu bulan, tapi untuk waktu yang lama. Tetapi karena aku mengelola sendirian, akhirnya mading tersebut kembali terhenti di tengah jalan.
Akhirnya semua itu membuat aku menjadi malas dan tidak bersemangat untuk menulis. Beruntung beberapa tahun setelah itu aku berkenalan dengan dunia internet. Aku berkenalan dengan Jonru saat kuketik latihan menulis pada kolom pencarian google. Muncullah SMO (Sekolah-Menulis Online) Asuhan Bapak Jonru Ginting yang saat itu sedang mengadakan pelatihan “Pintar Menulis Dalam 9 Minggu”.
Akhirnya, sedikit demi sedikit semangat yang dulu telah mati mulai hidup kembali (Hii…. Jangan-jangan hantu tuh! Orang mati kan gak bisa hidup. Hii….. ‘Tuh kan kamu sih komen, jadi bingung baik ke jalurnya lagi kan? Udah Diem!!! Ayo, kang, balik lagi ceritanya!’).
Ya, semangat itu mulai tumbuh kembali sehingga aku mulai ada lagi keinginan untuk menulis dan menceritakan dunia pada siapa saja. Apalagi setelah beberapa waktu Jonru mengabarkan bahwa buku barunya yang berjudul “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT” akan telah terbit dan sampel bukunya sudah ada di situs http://www.penulishebat.com. Wah semangatku untuk mulai menulis jadi tambah membara. Apa lagi aku juga bisa berkomunikasi dengan teman-teman pecinta tulus menulis di http://www.facebook.com/penulishebat dan juga di http://www.twitter.com/penulishebat.
Waktu itu aku juga sempet mendownload sample buku tersebut. Coba lihat! Keren kan bukunya!


Eeeh sorry! Stop dulu!
Kenapa? Yaaa karena! Kalo ada kenapa ya ada karena, ya to?
Eh becanda mulu! Gini lho, pada dasarnya aku ini kan suka pada tulis-menulis sejak saat aku SMP. Perkenalan dimulai saat ada lomba class metting yang diadakan di SMP 1 Susukan. Saat itu aku ditunjuk sebagai wakil kelasku untuk mengikuti lomba baca puisi. Jadi mau gak mau aku harus belajar baca puisi. Saat itu aku maju dengan penuh “Resah dan gelisah, menunggu di sini, disudut sekolah …”(da yang ingat “kisah kasih di sekolah”nya Obie Mesakh gak?) ups! Kok malah nyanyi seeh?
Yang jelas saat itu aku maju dan jreng jeng…! Aku dapet juara dua lho (Alhamdulillah!!!). Dari situ aku mulai deh cinta dengan yang namanya tulis menulis(Tapi nggak pacaran lho. Kata nenek itu berbahaya…(ini mah lagunya Titiek Puspa). Awalnya sih puisi, lalu malah alih kemudi ke jurusan cerpen, habis aku gak terlalu suka yang njelimet-njelimet harus mikir kata yang biasa jadi tidak biasa. Susaaaaah!!!
Tapi temen-temen, sayangnya itu semua cuma buat konsumsi sendiri. Tidak ada orang lain yang ikut merasakannya (ieh, pelit ya! Padahal belum tentu makanannya enak). Ya iya lah, masa diary mau diserahin orang lain bisa kebongkar kan rahasia kita?! Yah, begitulah selama bertahun-tahun tulisan tulisan itu cuma menjadi barang antik di antara berpuluh buku cetak yang ada di lemariku.
Perkenalan kedua dengan dunia ini aku alami saat aku ada di Ponpes Raudlotut Tolabah, Gebangsari, Kuwarasan, Kebumen. Adanya mading santri yang ada di Ponpes Raudlotut Tolabah ini mengitik-itik hatiku untuk ikut mengisi di sana.
Alhamdulillah setelah itu ada sedikit keberanian untuk mengirim coretan-coretanku ke majalah. Legaaa banget setelah aku kirimkan coretan-coretan itu. Sebulan, dua bulan, tiga bulan kutunggu kabar. Yah sekedar kabar tentang coretanku yang ku kirimkan entah itu diterima atau ditolak, tapi tak ada sadikitpun kabar yang datang.
Semangatku kembali down lantaran hal itu. Bahkan sampai saat aku keluar dari ponpes (Jangan ditiru ya! Aku keluar itu DeO lo.... ‘Huss! Jangan diceritain ngapa? Malu-maluin aja!’ Sorry, bro! Kelepasan!) aku masih down sehingga dunia ini terasa asing bagiku.
Beruntung aku mempunyai teman yang juga suka akan dunia tulis menulis. Kami sering sharing tentang mushola dan madrasah di desa kami (Kami sama-sama satu desa, mushola dan satu madrasah diniyyah). Sebuah ide yang tercetus dalam menyambut ramadhan kembali membangkitkan gairahku. “MADING GAUL RAMADHAN“ begitu kami memberi judul untuk kegiatan yang satu ini. tempat dimana anak-anak IRBATS (Ikatan Remaja Baitussalam) menampilkan kreasi masing-masing melalui tulisan.
Kami memajang tulisan-tulisan itu di Serambi Mushola Baitussalam. Teman-teman amat antusias dalam berpartisipasi di dalamnya, bahkan kami sempat juga saling sindir di dalam tulisan-tulisan itu. Madingpun menjadi hidup.
Sayang, dalam perjalanannya madding tersebut lebih menjadi ajang untuk saling menyindir dan mengejek antar anak-anak IRBATS sehingga kami putuskan untuk menyetop mading tersebut. Madingpun mati pada umur satu bulan (yee.. emang ramadhannya cuma 30 hari kali? Tapi beneran kok cerita yang tadi! Gak ada niat bo’ong! Suerr!)
Pengalaman membuat mading di mushola membuatku semakin bersemangat dalam menekuni dunia tulis menulis. Tapi ketika aku mencoba kembali untuk menulis cerpen ataupun puisi, aku selalu mentok. Kadang aku kekurangan ide untuk melanjutkan cerita atau puisi itu, tapi kadang justru ide-ide yang berseliweran di kepalaku menyeretku jauh dari ide awal yang seharusnya aku ceritakan, bahkan aku tak bisa mengembalikannya ke jalurnya yang semula.
Oleh temanku aku ditawari untuk ikut menjadi anggota FLP Purwokerto yang baru dibentuk. Akupun dengan semangat mengiyakan saja untuk menambah pengetahuan dan kualitas dalam menulis.
Dua minggu kemudian kami diberi tugas untuk mengumpulkan cerpen ataupun puisi karya kami sendiri. Dengan semangat empat lima aku menyerahkan coretan-coretan tanganku. Hasilnya….
Inalillahi wa inna ilaihi rojiun…..
Telah meninggal dunia
Semangat saya dalam dunia tulis menulis
Mari kita bersama-sama mendoakan agar arwahnya diterima disisi-Nya Al fatihah!
(Eeh lagi-lagi ngelantur. Maaf, punten, sorry banget ya, jadi ngelantur). Maksudnya karena bedah naskah yang diadakan aku saat itu justru down sedown-downnya (istilah apaan tuh?!). Aku saat itu minder, merasa karya sendiri paling jelek dan belum layak untuk dikonsumsi oleh otak-otak yang lapar akan bacaan. Kalau Harry Potter adalah buku yang Selezat Pizza (meminjam istilah Hernowo) maka coretan yang aku buat ibarat sayur bening yang sudah basi. (Menunggu saat untuk dibuang aja deh. Hiks… hiks … hiks…).
Kedatangan ramadhan tahun 2008/1429 H kembali memberikan setitik semangat untuk kembali menghidupkan mading yang telah fakum selama bertahun-tahun. Kuputuskan untuk menghidupkan kembali kegiatan mading di dua tempat sekaligus, yaitu di Masjid Al Ikhlas dan Madrasah Diniyyah Darussalam. Aku berharap agar madding yang dirilis kali ini bukan bertahan hanya satu bulan, tapi untuk waktu yang lama. Tetapi karena aku mengelola sendirian, akhirnya mading tersebut kembali terhenti di tengah jalan.
Akhirnya semua itu membuat aku menjadi malas dan tidak bersemangat untuk menulis. Beruntung beberapa tahun setelah itu aku berkenalan dengan dunia internet. Aku berkenalan dengan Jonru saat kuketik latihan menulis pada kolom pencarian google. Muncullah SMO (Sekolah-Menulis Online) Asuhan Bapak Jonru Ginting yang saat itu sedang mengadakan pelatihan “Pintar Menulis Dalam 9 Minggu”.
Akhirnya, sedikit demi sedikit semangat yang dulu telah mati mulai hidup kembali (Hii…. Jangan-jangan hantu tuh! Orang mati kan gak bisa hidup. Hii….. ‘Tuh kan kamu sih komen, jadi bingung baik ke jalurnya lagi kan? Udah Diem!!! Ayo, kang, balik lagi ceritanya!’).
Ya, semangat itu mulai tumbuh kembali sehingga aku mulai ada lagi keinginan untuk menulis dan menceritakan dunia pada siapa saja. Apalagi setelah beberapa waktu Jonru mengabarkan bahwa buku barunya yang berjudul “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT” akan telah terbit dan sampel bukunya sudah ada di situs http://www.penulishebat.com. Wah semangatku untuk mulai menulis jadi tambah membara. Apa lagi aku juga bisa berkomunikasi dengan teman-teman pecinta tulus menulis di http://www.facebook.com/penulishebat dan juga di http://www.twitter.com/penulishebat.
Waktu itu aku juga sempet mendownload sample buku tersebut. Coba lihat! Keren kan bukunya!

Eeeh sorry! Stop dulu!
“Don’t Judge a book with this cover!”
Jangan lihat luarnya saja donk! Dalamnya juga kudu dibaca.
Awas kalo enggak!!! (pinjeman dari anak mentengnya slank nieh!).
Masalahnya kalau kamu emang minat sama nulis dan udah tau ada buku ini en gak mau baca rugiii. dech! Contohnya, aku aja nih baru baca sampelnya aja udah dapat merasakan kehebatannya.
Gak percaya?!!! Udah ada buktinya kok! Aku yang dulunya drop en down semangat minderan udah mau mencoba mengirim tulisan ini! Kemajuan yang berarti bagi yang semangat nulisnya udah mati kan?
Lewat buku ini aku juga jadi punya pemahaman baru bahwa seorang penulis hebat bukan ditentukan oleh banyaknya karya atau tulisan yang dihasilkannya. Tetapi lewat seberapa besar dan seberapa keras usahanya untuk menjadi penulis sukses. (Kira-kira aku udah hebat belum ya? Inginnya sih gitu. Doa’in ya temen-temen. . . . . Amin!). Jadi tidak salah donk, kalau aku punya keinginan untuk menjadi penulis yang hebat sehingga menjadi penulis yang sukses?
Sebagai langkah awal aku mulai memikirkan untuk kembali menghidupkan Mading yang dulu sempat mati dengan konsep yang berbeda. Aku mulai mengkoordinir teman-teman di Madrasah untuk mulai merintis Majalah dinding yang bukan di dinding. Kami menggunakan istilah pohon kata, dimana pada setiap ranting yang ada, daun-daun yang tergantung di sana adalah untaian cerita dari anak-anak Madrasah Diniyyah Darussalam. (Ciee gaya banget! Belagu lu!!!). Moga-moga kali ini tidak hanya seumur jagung ya. Doain donk temen-temen!
Makasih ya buat doanya! Semoga temen-temen mendapat balasan yang berkah dari Alloh swt. Sebagai tanda terima kasih dari aku, ada sedikit informasi nieh tentang buku “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT”. Pentiiiiing buanget buat temen-temen yang tertarik dalam dunia penulisan. Kudu en wajib dibaca.
Buat temen-temen yang tertarik sama buku ini, untuk sementara buku “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT” cuma tersedia dalam versi e-book saja.
Yah, gimana nih. Bacanya kan jadi gak bisa santai?
Tenang aja dech! Walaupun tentu saja masih ada kekurangan dalam versi e-booknya, tapi kita malah harus bersyukur dengan adanya versi e-book yang sering kita anggap kurang asyik ini. Lho, kok?
Ya iya lah! Soalnya versi e-booknya “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT” memberikan buanyak sekali penawaran menarik. Yaitu dua paket pembelian e-book dengan bonus-bonus menarik yang bisa kamu pilih sesuai dengan seleramu.
Diantaranya ada paket seharga Rp 49.500,00 dengan bonus voucher dari Sekolah-Menulis Online senilai Rp 200.000. (wuih.. mau donk!!!) Ini adalah DISKON SMO TERBESAR yang pernah diberikan lho! (selama ini, diskon terbesar SMO hanya Rp 150.000). Selain itu kita juga mendapat Modul Eksklusif dari Sekolah-Menulis Online 6 modul dan terdaftar sebagai Siswa Kelas Free Trial SMO. Pokoknya rugi dech kalau gak tertarik.
SILAHKAN KLIK DISINI UNTUK MELIHAT PAKET LAINNYA .
Alhamdulillah dengan adanya buku ini aku semakin bersemangat untuk menulis dan menjadi semakin yakin bahwa siapapun bisa menjadi penulis yang sukses jika ia adalah penulis yang hebat. So, ketika ada dua pilihan menjadi penulis hebat dan menjadi penulis yang gagal mana yang akan kamu pilih? Masa depan adalah hal yang ghaib. Tidak ada yang bisa meramal masa depan kecuali Allah swt. Tapi satu hal yang pasti masa depan bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Jadi mari kita ciptakan masa depan kita sendiri! FASTABIQUL KHOIROT!!!
Untuk seseorang yang masih saja mencari dirinya sendiri:
“Kang udah ketemu belum?”
Awas kalo enggak!!! (pinjeman dari anak mentengnya slank nieh!).
Masalahnya kalau kamu emang minat sama nulis dan udah tau ada buku ini en gak mau baca rugiii. dech! Contohnya, aku aja nih baru baca sampelnya aja udah dapat merasakan kehebatannya.
Gak percaya?!!! Udah ada buktinya kok! Aku yang dulunya drop en down semangat minderan udah mau mencoba mengirim tulisan ini! Kemajuan yang berarti bagi yang semangat nulisnya udah mati kan?
Lewat buku ini aku juga jadi punya pemahaman baru bahwa seorang penulis hebat bukan ditentukan oleh banyaknya karya atau tulisan yang dihasilkannya. Tetapi lewat seberapa besar dan seberapa keras usahanya untuk menjadi penulis sukses. (Kira-kira aku udah hebat belum ya? Inginnya sih gitu. Doa’in ya temen-temen. . . . . Amin!). Jadi tidak salah donk, kalau aku punya keinginan untuk menjadi penulis yang hebat sehingga menjadi penulis yang sukses?
Sebagai langkah awal aku mulai memikirkan untuk kembali menghidupkan Mading yang dulu sempat mati dengan konsep yang berbeda. Aku mulai mengkoordinir teman-teman di Madrasah untuk mulai merintis Majalah dinding yang bukan di dinding. Kami menggunakan istilah pohon kata, dimana pada setiap ranting yang ada, daun-daun yang tergantung di sana adalah untaian cerita dari anak-anak Madrasah Diniyyah Darussalam. (Ciee gaya banget! Belagu lu!!!). Moga-moga kali ini tidak hanya seumur jagung ya. Doain donk temen-temen!
Makasih ya buat doanya! Semoga temen-temen mendapat balasan yang berkah dari Alloh swt. Sebagai tanda terima kasih dari aku, ada sedikit informasi nieh tentang buku “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT”. Pentiiiiing buanget buat temen-temen yang tertarik dalam dunia penulisan. Kudu en wajib dibaca.
Buat temen-temen yang tertarik sama buku ini, untuk sementara buku “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT” cuma tersedia dalam versi e-book saja.
Yah, gimana nih. Bacanya kan jadi gak bisa santai?
Tenang aja dech! Walaupun tentu saja masih ada kekurangan dalam versi e-booknya, tapi kita malah harus bersyukur dengan adanya versi e-book yang sering kita anggap kurang asyik ini. Lho, kok?
Ya iya lah! Soalnya versi e-booknya “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT” memberikan buanyak sekali penawaran menarik. Yaitu dua paket pembelian e-book dengan bonus-bonus menarik yang bisa kamu pilih sesuai dengan seleramu.
Diantaranya ada paket seharga Rp 49.500,00 dengan bonus voucher dari Sekolah-Menulis Online senilai Rp 200.000. (wuih.. mau donk!!!) Ini adalah DISKON SMO TERBESAR yang pernah diberikan lho! (selama ini, diskon terbesar SMO hanya Rp 150.000). Selain itu kita juga mendapat Modul Eksklusif dari Sekolah-Menulis Online 6 modul dan terdaftar sebagai Siswa Kelas Free Trial SMO. Pokoknya rugi dech kalau gak tertarik.
SILAHKAN KLIK DISINI UNTUK MELIHAT PAKET LAINNYA .
Alhamdulillah dengan adanya buku ini aku semakin bersemangat untuk menulis dan menjadi semakin yakin bahwa siapapun bisa menjadi penulis yang sukses jika ia adalah penulis yang hebat. So, ketika ada dua pilihan menjadi penulis hebat dan menjadi penulis yang gagal mana yang akan kamu pilih? Masa depan adalah hal yang ghaib. Tidak ada yang bisa meramal masa depan kecuali Allah swt. Tapi satu hal yang pasti masa depan bergantung pada apa yang kita lakukan hari ini. Jadi mari kita ciptakan masa depan kita sendiri! FASTABIQUL KHOIROT!!!
Untuk seseorang yang masih saja mencari dirinya sendiri:
“Kang udah ketemu belum?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar anda! Tinggalkan komentar anda di sini untuk masukan agar lebih baik!