Rabu, 30 Desember 2009

“ANJING!!!”

“Anying!!!” (inget film tarik jabrik neh!)
Temen-temen tahu kan, Cacing, Mulder dan anak-anak Tarik Jabrik sering sekali kata-kata ini ketika mereka melihat atawa mendapat perlakuan yang menjengkelkan atau membuat marah. Kira-kira mungkin mereka aslinya mengucap “Anjing” kali? (Yee asal! Tanya tuh sama yang ngarang!).
Nah pada tulisan ini kita juga mau membahas anjing, tapi bukan anjing beneran lho? Terus anjing apaan donk? Boneka anjing, patung atau siluman? (Hi… takuuuuut!!!) Jangan-jangan anjing setan?!
Huss!!! Bukan itu kale? Kita cuma mau ngopi ABC susu. Eh becanda lagi neh. Sorry!! OK, back to the road. Kita mau ngebahas anjing yang ada pada diri kita sendiri!
(Interupsi pak moderator! Kita nggak pelihara anjing kok!)
Ok. Interupsi diterima. Kita emang nggak boleh melihara anjing jika Cuma buat jadi hewan peliharaan, tapi anjing pemburu bagi seorang pemburu boleh kok. Tapi inget jangan dimasukin rumah, ada hadits yang bilang klo “Malaikat Tidak Akan Masuk Ke Rumah Yang Ada Anjing Ataupun Gambarnya”.
Eh jadi ceramah nih. Gini lho mas, yu, dhek, temen-temen. Banyak sekali yang tanpa kita sadar kita telah memelihara anjing dalam diri kita. Memberi makan dan membuatnya besar sehingga kita sendiri tidak kelihatan dan yang kelihatan adalah ‘Anjing’. Jadi jangan heran kalo sekali-kali ada yang menyebut dengan jengkel.
“Anjing!!!”
“Asu!!!”
(Ih… nggak Ban Get dech!)
Makanya kita kudu tahu, kenapa orang bisa memanggil kita…
“Asu!!!” (Weeh serempak banget jawabnya, udah nggak suka ya?)
Ok, just kidding! Just kidding! Kembali ke lap top! (He… he… he… kaya Om Tukul aja).
Ternyata penyebabnya nggak lain dan nggak bukan adalah kelakuan kita sendiri. Coba diingat-ingat! Kebanyakan perkataan tersebut ternyata muncul karena kelakuan or perbuatan kita nggak baik bin buruk di mata orang tersebut. So, muncullah kata-kata tadi.
Aku jadi inget sebuah nukilan dari kitab Ta’limul Muta’alim yang menyatakan bahwa “Akhlakud Damimah Kalbun Ma’nawiyyun!” otawa dalam bahasa kitanya kira-kira akhlak tercela adalah anjing ma’nawi. Wujudnya memang bukan anjing, tapi maknanya anjing juga, maka jangan heran kalo ada orang yang membuat marah seseorang kemudian keluar kata-kata anjing de es be yang artinya sama-sama menghujat pemiliknya.
Dalam tataran ilmu fiqih anjing dan babi menempati tingkat terberat dalam tataran najis (Ada yang tahu?). Yupz! Najis Mugholadzoh, najis yang hanya bisa suci setelah dibasuh 7 kali (Kali apa saja ya? Kali serayu, kali citandui, kali ciliwung, kali… ‘He bangun! 7 kali, bukan 7 sungai! Ping pitu, ping pitu!’) Sorry temen-temen! Balik ya? Dibasuh 7 kali en salah satunya dicampur pake debu. Waduh repot banget donk!
Satu lagi kerugian memelihara anjing. Ada sebuah hadits yang menyatakan bahwa ‘malikat tidak akan memasuki rumah yang didalamnya terdapat anjing ataupun gambar’.
Wah repot juga tuh! Padahal malaikat juga utusan Alloh untuk membagi rizki, membagi ilmu, en membagi berbagai keberkahan. Trus kalo kita memelihara anjing dan malaikat nggak mau masuk dan nggak membawakan ilmu untuk kita semua gimana?
Wah… rugi Ban Get lah!!!
Makanya ayo kita keluarkan anjing dalam diri kita dan kita masukkan kebaikan-kebaikan dalam diri kita dengan menjaga akhlakul karimah. Setelah akhlakul karimah terjaga maka…
Jreng-jeng!!!
Kita akan menjadi makhluk yang mulia. Amien.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih atas komentar anda! Tinggalkan komentar anda di sini untuk masukan agar lebih baik!